Wednesday, November 14, 2007

Kontributor Linux dari Indonesia Masih Sedikit


Geliat dunia IT khususnya Opensource Software memang lagi terus menyerang benteng dunia proprietary software. Apalagi Linux yang kian tahun menunjukkan tombaknya dalam menggencarkan agresinya untuk merambah dunia komputerisasi, kini semakin berkibar. Dengan berbekal prinsip opensource dan free, suatu software dibangun oleh orang-orang yang memberikan kontribusinya dan berasal dari seluruh "dunia". yup, kenapa musti pake tanda kutip pada kata "dunia"?. Karena memang kenyataannya sumber kode dari software itu dapat di lihat maupun di modifikasi oleh siapapun, namun programmer-programmer yang nyata memberikan kontribusinya justru 70% berasal dari negara Eropa dan Amerika. dan 30%-nya tersebar di berbagai belahan negara seperti Jepang, India, Timur Tengah, Amerika Selatan dan Australia.

Dilihat dari penggunaannya, Linux memang mulai banyak dipakai oleh kalangan mahasiswa yang mengenyam pindidikan di Universitas dan setara. Lagi-lagi mereka hanya end user alias pemakai saja. Menggunakan sarana Free sebagai alternatif software bajakan, karena software yang berbentuk proprietary terlalu tebal hargarnya ketimbang harga sebuah buku yang mereka bawa ke kampus.

Indonesia tak kekurangan SDM dibidang IT, tiap tahunnya beribu-ribu orang telah lulus dari bidang IT dan sejenisnya. Mereka senang menggunakan Linux dan aplikasi yang berjalan diatasnya, tapi tetap saja, lagi-lagi hanyalah pengguna. Kalaupun ada, pastilah sedikit sekali dari mereka yang mencoba memberikan kontribusi nyata kepada software opensource tersebut yang notabene disukainya.

Menjadi seorang kontributor yang menyumbangkan ilmunya tanpa pamrih memang tidak segampang yang dikira. Kecenderungan akan mengedepankan dari segi bisnis ataupun uang memang gak bisa dihilangkan dari otak kita. Dan bila disuruh memilih, menulis artikel yang menghasilkan beberapa lembar uang kertas lebih penting dibandingkan menulis baris-baris kode untuk menambah fitur dan menutup celah bugs yang ada pada software opensources.

Berapa banyak sih, Kontributor Linux dari Indonesia? pastilah dapat dihitung tangan. Tidak perlu muluk-muluk terlebih dahulu untuk menjadi kontributor. Tidak perlu harus langsung menulis beberapa baris kode dan mencoba menutup celah bugs yang ada. Dimulai dari hal yang mudah, seperti melaporkan penemuan bugs kepada maintainer-nya, atau juga mencoba memberikan solusi-solusi yang berguna, dengan bergabung pada milis ataupun channel IRC yang ada. Perlahan-lahan bolehlah atau seharusnya kita membantu untuk berkontribusi kepada dunia Linux.

Saya sendiri apabila ditanya apa yang saya lakukan dalam dunia Linux, tentu saya akan mencoba mengajak bersama-sama untuk memberikan kontribusi yang nyata kepada opensource software. Dari sisi pandang saya, hal yang utama perlu mendapatkan dukungan kontributor dari indonesia adalah seperti KDE, Gnome, dan aplikasi-aplikasi yang sering digunakan oleh kalangan mahasiswa, seperti word processing, spreadsheet, presentation, image viewer, graphics ilustrator dan tool-tool pembantu lainnya.

Sebaiknya tidak perlu banyak bicara disini, karena yang paling penting adalah, bagaimana sekarang memulai untuk menyedekahkan sebagian dari ilmu yang kita milikki, kepada Linux. Mulailah berkontribusi semampunya, tanpa adanya paksaan, yang utama adalah semangat untuk mengembangkan sesuatu yang berguna bagi seluruh umat manusia. Karena ilmu itu, hak bagi semua orang, dan ilmu itu wajib untuk dibagikan kepada yang membutuhkannya.

1 comment:

funk.ynot said...

"Dilihat dari penggunaannya, Linux memang mulai banyak dipakai oleh kalangan mahasiswa yang mengenyam pendidikan di Universitas dan setara. Lagi-lagi mereka hanya end user alias pemakai saja."

Saya sependapat dgn Bung Teddy dgn argumen Bung di atas. Beberapa alasan kenapa masih banyak mahasiswa yg jadi "end user", al :
1. Kurikulum tempat mereka kuliah yg kurang mendukung gerakan FOSS (Free & Open Source Software).
2. Kurangnya dokumentasi software yg rapi dan lengkap.
3. Lingkungan kita yg sudah di-hegemoni oleh "Microshit Windows".
4. Kawan-kawan blom "ngeh" kalo "ngoprek GNU/Linux" itu sesuatu yg sangat "fun".

Waktu saya ikut kuliah tamu "Dr. Alexander Schatten" dari "Viena University of Technology-Austria" ttg "Trend of Open Source Software" yg diadakan di Teknik Elektro - Universitas Udayana, dia mengatakan bahwa "Sebuah Universitas harus memiliki kelas khusus untuk Open Source". Ouw...apakah kampus kita siap utk itu? Ato lebih enak di-"jajah" Microshit Windows? Sebuah pilihan susah mungkin bagi birokrat kampus..

Kalo saya pikir, mahasiswa sebagai "agent of change" punya peran penting utk memasyarakatkan linux dan me-linux-kan masyarakat. Kenapa?Mahasiswa bisa bergerak lebih leluasa utk gerakan FOSS. Bisa dimulai dari membentuk komunitas kecil di kampus yg konsen mempelajari ilmu per-linux-an. Lalu komunitas kecil ini mulai menularkan virus2 Linux ke mahasiswa lain atau ke dosen melalui promosi gila2an ttg keunggulan & kenikmatan Linux. Mungkin bisa menyebarkan sebuah tutorial2 Linux melalui "zine", sisipan majalah kampus atau majalah tembok di kampus (seperti yg dilakukan kawan2 Komunitas Software Merdeka Universitas Udayana-Bali).

Sebuah kesempatan emas kalo kawan2 mahasiswa ini menjadi Asisten Dosen. Mereka bisa membuat modul praktikum yg "Linux based". Sehingga mau tidak mau, peserta praktikum harus "nginstall" Linux kalo mau lulus praktikum. Dengan begitu, paling tidak mereka yg newbie akan belajar dan semoga juga menulis dokumentasi ttg apa yg mereka pelajari. Dgn begitu dokumentasi "hasil belajar sendiri" ini bisa diberikan ke kawan lain utk dipelajari dan dipraktekkan. Kalau sudah ada sharing begitu kan mereka sudah berkontribusi utk kemajuan dunia per-linux-an. Yg penting enjoy aja nge-jalaninnya. Kalo uda ada rasa enjoy, rangsangan utk ber-explorasi lebih jauh akan terjadi dengan sendirinya. Kalo menemukan kendala, bisa nanya2 di milis2 Linux. Dan kalo menemukan kasus seperti yg pernah dia alami, kemungkinan utk memberikan solusi pasti ada.

Phuff....panjang juga ya komennya? Sorry ya Bung kalo terlalu byk. Inget pesen di film Anti-Trust,
"Knowledge belong to the world".
So, jgn simpan sendiri ilmu yg kita punya....

Salam,
/ton_malaka
..::Keep'n Free Minded::..