Friday, March 20, 2009

My Gadget Evolution

Sebenernya aku tidak hobi gonta ganti gadget yang mana terlihat saat ini banyak sekali orang hampir bisa dibilang tiap tahun ganti dengan gadget yang paling gres dengan selusin teknologi yang diusungnya, terlebih lagi yang kata orang jaman modern, segala sesuatunya menjadi semakin kecil bentuk dari peralatan yang dulu segede bagong. Tuntutan jaman membuat mobilitas seseorang semakin tinggi, oleh karenanya dibutuhkan suatu peralatan elektronik yang dapat menunjang aktifitasnya yang tinggi itu.

HP atau Handphone atau telefon genggam, bukan lagi menjadi barang exclusive kaum jutawan seperti saat era awal 90-an. Aku sendiri mengenal telefon mobile ketika awal 90-an, saat salah satu saudara dengan kesibukannya membawa sebuah telefon mobile yang besarnya seperti telepon fixed wireles saat ini. Waktu itu terlihat exclusive banget dan keren. Lambat laun teknologi semakin berkembang dengan pesat, segala sesuatunya lagi-lagi mengkerut menjadi lebih kecil bentuknya, juga dengan telefon mobile itu tadi. Singkat cerita, saat kuliah tahun 1998 di surabaya, mulai marak HP dikalangan mahasiswa maupun mahasiswi. tahun 2001 adalah awal aku memiliki sebuah HP, yang bisa dibilang cukup untuk komunikasi, bentuknya yang gede, dengan tonjolan antena, sepertinya masih terlihat ok kala itu.

Ortu Membelikanku sebuah HP Ericsson (kini SonyEricsson) A2628, kubeli di counter resmi ericsson WTC surabaya, seingatku kala itu harganya kurang lebih 800 ribuan++, memang bukan HP tercanggih saat itu, setidaknya itu adalah gadget pertamaku yang menurutku sudah tampak begitu wah bagiku.


Setelah 2 tahun berlalu dengan tetap menggunakan A2628, sedangkan berbagai produk terbaru dan teknologi terbaru bermunculan dengan bentuk yang sudah tanpa antena dan desain yang menawan, kecil dan juga lux, aku tetap bertahan pada gadget tersebut, yah begitulah, mau beli pakai uang apalagi untuk beli yang terbaru?? baru juga lulus kuliah, boro-boro beli HP baru, kerjaan aja masih cari sana-sini waktu itu. Meski saat itu, kerewelan telah hinggap pada HP tercinta, mulai dari konektor batere yang udah kendor, casing yang mulai bengkak dll. Hingga suatu ketika karena sudah hampir bisa dibilang parah, HPku kulilit dengan sebuah isolasi lakban bening, agar casingnya tidak kocak. Malu saat terima telpon dari seseorang, karena kondisi HP yang mengenaskan. Namun itulah satu-satunya gadget yang aku punya.

Waktu berlalu, setelah 4 tahun bertahan, dengan menabung hasil kerja 1 thn, akhirnya kurelakan A2628 didalam lemari meski saat ini HP tersebut dipinjam oleh temanku ketika hampir mati suri beberapa waktu. Saat itu January 2004 kantongku cukup untuk membeli sebuah HP yang bisa dibilang lumayan terbaru meski bukan teknologi terbaru dan yang termahal. Pilihan jatuh pada Sony Ericsson K500i. Hmmm... sedikit pensegaran otak setelah melihat fitur kamera, MP3 dll merasuki gadget yang aku punya. K500i yang kupunya bisa dibilang hampir tanpa rewel, segala sesuatunya berfungsi dengan baik hingga saat ini. Penuh kenangan dengan gadget ini, mulai foto-foto narsis, hingga lagu-lagu jass favoritku yang tersimpan didalamnya.

Dan,... 5 tahun terlewati kehidupan juga sangat dinamis, yang dulu masih bujangan, kini tak lagi sendiri menyusuri ramainya malam dikala mata membutuhkan suatu pensegaran. Allah telah memberikanku seorang pendamping hidup, membukakan segala sesuatunya untuk disyukuri. Akhirnya gadget yang aku miliki 5 tahun lalu kurelakan untuk dimiliki ibuku. Kini aku membutuhkan sebuah gadget yang mampu mendukung aktifitas sehari-hariku, terlebih aku memiliki kerja sampingan dari sebuah hobi lamaku, menjadi tukang pencet shutter.
Kini sebuah pilihan jatuh pada sebuah gadget yang setidaknya dapat menjadi sebuah bak assisten pribadi, sekaligus sebuah mesin yang dapat untuk menunjukkan hasil karyaku dari kerjaan tukang pencet shutter. Karena saat ini belum mampu untuk membeli sebuah laptop, maka gadget ini yang ku-andalkan untuk menjadi media perantaraku untuk menunjukkan kepada orang-orang yang ingin tahu tentang karyaku yang masih dibilang tahapan belajar merangkak seorang bayi.


Perubahan bak Evolusi kehidupan, dari layar LCD monocrom menjadi LCD berwarna beresolusi rendah plus pemutar musik, hingga berubah menjadi layar sentuh, semua seakan menjadi sebuah evolusi. Evolusi yang akan terus berubah hingga nanti tanpa henti kecuali mati. Itu saja.

2 comments:

nadia said...

,namanya juga teknologi....

Teddy said...

@Nadia : hehehe bener mbak, teknologi memang terus berkembang...